Bahan Sermon PJJ 16 – 22 Februari 2025

PJJ 16 – 22 Februari 2025

Kep-kep alu mehuli (1 Timotius 6:20-21)

6:20 Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan, 6:21 karena ada beberapa orang yang mengajarkannya dan dengan demikian telah menyimpang dari iman. Kasih karunia menyertai kamu!

Perikop ini merupakan kata penutup yang disampaikan Paulus sebagai ringkasan pokok dari keseluruhan suratnya kepada Timotius. Kata penutup tersebut berisi perintah agar Timotius menjaga kemurnian Injil dari ajaran-ajaran yang menyesatkan.

Ay. 20, berkata: “Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang keliru yang disebut pengetahuan.”

Dengan penyebutan dan penyapaan “Timotius” dalam ayat ini, Paulus dengan jelas ingin meminta perhatian khusus dari Timotius terhadap hal berikut:

Kata, “peliharalah” jika dilihat dalam terjemahan aslinya lebih keras, yaitu “jagalah”. Selain itu, kita dapat menemukan ungkapan “apa yang telah dipercayakan kepadamu” dalam teks iniungkapan yang juga juga dipakai di 1 Tim. 1:11, 18; 2 Tim. 1:14; 2:2; 3:14.

Selain itu, adapun wujud dari dari apa yang “dipercayakan,” itu adalah merujuk kepada “Injil” yang mencakup pemberitaannya serta pembinaan jemaat dalam menghayati imannya kepada Yesus, baik di dalam pengajaran maupun dalam kelakukan, baik untuk perseorangan maupun untuk kehidupan jemaat.

Dari itu, kita dapat melihat bahwa kata ‘jagalah’ menunjukkan betapa pentingnya bagi Paulus tugas melindungi dan menjaga Injil dan pekerjaan yang telah dipercayakan terhadap serangan-serangan ajaran sesat yang pada saat itu dihadapai jemaat Kristen (Lih. 1 Tim.1:3-11). Walaupun cara mengungkapkannya bisa dan selalu berubah tetapi inti “Injil” itu harus senantiasa dijaga kemurniannya menurut Paulus.

Selanjutnya, kita menemukan ungkapan Paulus mengenai “Omongan yang kosong” – ajaran sesat itu. Menurut Paulus, sekalipun omongan tersebut secara intelektual mempesonakan (disebut: pengetahuan), bdk. Kol 2:4,8, namun bisa saja isinya tidak mengenal inti Injil atau jauh dari inti Injil. Bagi Paulus, ajaran yang demikian disebut “tidak suci” sekalipun mungkin saja menggunakan kata-kata yang suci tetapi isinya melawan kesucian Injil itu sendiri.

Lebih lanjut kita menemukan kata: “Pertentangan-pertentangan” – ajaran – ajaran sesat yang mengajukan pertentangan – pertentangan ke dalam perdebatan-perdebatan yang melawan kebenaran Injil. Menurut Paulus, di satu sisi ajaran tersebut bisa saja memberikan kesan yang akaliah dan ilmiah, sehingga disebut pengetahuan. Misalnya ajaran Gnostik (kira-kira tahun 100-150M) yang berkembang di era jemaat Kristen mula-mula, yang menganggap Allah Pencipta tidak sama dengan Alah Bapa Yesus Kristus dan tidak ada kebangkitan daging dan dunia baru.

Terhadap itu semua, Paulus memberi perintah kepada Timotius supaya ia menghindarinya karena kekuatan Injil tidak terletak pada kata-kata yang indah (manis), melainkan di dalam kuasa Roh Kudus dan praktik pengalaman iman (bdk. 1 Kor. 2:4; 4:20).

Selanjutnya, ayat 21 berkata: “Karena ada beberapa orang yang mengajarkannya dan dengan demikian telah menyimpang dari iman. Anugerah menyertai kamu.”

Dalam ayat ini, Paulus memberi kesan bahwa para pengajar ajaran sesat itu disebut menyimpang dari iman, bukan saja karena ajaran mereka menyimpang dari kebenaran Injil, melainkan juga karena cara mereka tidak sesuai dengan sifat Injil.

Terakhir, kita menemukan ungkapan “Anugerah menyertai kamu!”. Kata “kamu” di sini ditulis dalam bentuk jamak. Ini menunjukkan bahwa sekalipun surat ini disampaikan kepada Timotius, tetapi dimaksudkan juga supaya dibacakan/sampaikan kepada jemaat dan komunitas orang percaya. Memang, benar adanya bahwa apa yang ditulis tentang iman dan penghayatannya perlu diketahui dan diberitakan kepada seluruh jemaat.

Refleksi:

Gereja harus tetap setia dalam menjaga kemurnian Injil di tengah berbagai tantangan intelektual dan ideologis. Tantangan zaman modern, seperti relativisme kebenaran dan interpretasi yang menyimpang dari ajaran Kristus, harus dihadapi dengan keteguhan iman dan hikmat dari Roh Kudus. Dalam hal ini, teladan dari Rasul Paulus kepada Timotius menjadi relevan. Paulus menasihatkan Timotius untuk tetap setia dan patuh dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan Injil, tidak hanya dalam aspek moral dan spiritual, tetapi juga dalam menjaga kemurnian ajaran yang telah diterimanya.

Sebagaimana Timotius diperintahkan untuk menjaga amanat yang dipercayakan kepadanya, demikian pula kita dipanggil untuk tetap berpegang pada Injil yang benar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Paulus menegaskan bahwa Injil harus disampaikan tanpa penyimpangan, tetap berpegang pada kebenaran yang telah diajarkan oleh Kristus. Kepatuhan yang diminta bukan sekadar ketaatan buta, melainkan suatu tanggung jawab untuk meneruskan ajaran yang benar kepada generasi berikutnya.

Pertanyaan yang muncul saat ini adalah: siapa yang bertanggung jawab dalam menjaga kemurnian Injil Kristus dari omongan yang kosong? Gereja kita meyakini bahwa tanggung jawab tersebut berada pada Pendeta, Pertua, dan Diaken, bersama dengan pengurus PJJ serta kategorial, yang memiliki tugas untuk memimpin dan membangun iman jemaat berdasarkan kebenaran Injil.

Dalam konteks ini, relasi spiritual antara Paulus dan Timotius dapat menjadi teladan bagi Pendeta, Pertua, Diaken, serta pengurus PJJ dan kategorial. Mereka dipanggil untuk menjalankan misi yang sama, yaitu membangun dan meneguhkan iman jemaat sesuai dengan kebenaran Injil.